Potret Pemakaman

Setelah 7 Tahun, Desa Samaenre Semaja Akhirnya memiliki Pemakaman Umum

Meski sudah dibentuk sejak tahun 2011 silam, namun Desa Samaenre Semaja, Sei Menggaris, Nunukan, ternyata menyimpan segudang kekurangan. Salah satunya kehadiran Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Sekretaris Desa Samaenre Semaja Hj Maryam Laode menungkapkan bahwaTPU tersebut baru terwujud tahun ini. Sebab, selama dimekarkan, baru kali ini memiliki tanah pemakaman umum.

“Samaenre Semaja ini terletak di daratan besar Pulau Kalimantan denganwaktu tempuh 3 jam melalui transportasi sungai dan laut,” terangnya kepada Koran Kaltara, Senin (13/5/2019).

Dia menjelaskan sebelum ada tanah penguburan, warga Desa Samaenre menguburkan keluarganya di tanahnya masing-masing. Bahkan, ada yang dibawa ke Pulau Nunukan untuk dimakamkan.

“Penduduk di desa ini kurang lebih ada1.000 Kartu Keluarga (KK),” ungkapnya.

Secara geografis, kata dia, wilayah Desa Samaenre berada di dataran tinggi perbukitan. Dan, salah satu daerah yang sangat sulit diakses. Apalagi jika hujan, maka kondisi jalan semakin sulit.

“Perlu kehati-hatian ekstra untuk sampai ke desa ini. Karena sangat sulit,” bebernya.

Maryam mengatakan, tanah pemakaman luasnya kurang lebih 1 hektar. Dan itu merupakan tanah hibah dari tokoh masyarakat Desa Samaenre bernama Kahar Sanom.

“Karena beliau juga kasian dengan warganya yang meninggal, tapi bingung untuk dikubur. Sehingga beliau menghibahkan tanahnya untuk pemakaman umum,” jelasnya.

Dia menceritakan pengalaman seorang warga Desa Samaenre Semaja yang meninggal di Kota Samarinda, Provinsi Kaltim. Awalnya, kata dia, warga ini berobat di Samarinda dengan menempuh jarak yang jauh dan biaya besar.

“Nah, pas dipulangkan sangat sulit. Karena ke Desa Samaenre ini butuh biaya besar. Kami mengumpulkan dana sekitar sepuluhan juta dan dibantu pihak rumah sakit untuk dipulangkan menggunakan pesawat dan speedboat sampai ke Desa Samaenre Semaja ini,” tegasnya.

Menurut dia, warga ini yang merupakan pertama kali mengisi tanah pemakaman yang dihibahkan pada pertama bulan suci Ramadan.

“Warga bergotong royong menggalikan lubang kuburnya. Sampai berbuka puasa di tanah penguburan. Tapi inilah kerjasama masyarakat terhadap sesamanya,” kata dia.(*)

Reporter : Asrin

Editor : Sobirin

news copied from : Koran Kaltara